CARA BANK MENCIPTAKAN KEUNTUNGAN
BERSIAPLAH melihat hal paling menakjubkan tentang bank. Ini terkait dengan bagaimana bank bisa mendapatkan keuntungan yang luar biasa besar. Karena kita tahunya sumber keuntungan bank hanya berasal dari selisih antara bunga kredit yang mereka terima dengan bunga tabungan yang mereka bayarkan pada nasabah. Tapi ternyata bukan hanya itu. Ada sumber keuntungan lain yang jumlahnya jauh lebih besar.
Inilah sumber utama sehingga bank untung puluhan triliun saban tahun. Tapi sebelum membahas itu, ketahuilah dulu bahwa bank adalah sistem keuangan. Sistem keuangan dan sistem bisnis adalah dua hal yang berbeda. Cara mereka mendapatkan keuntungan juga berbeda. Sistem bisnis mendapatkan keuntungan dengan cara mengambil selisih antara pendapatan dengan modal. Atau selisih antara harga jual dengan harga beli.
Misal anda menjual sepatu dengan harga Rp. 150.000. Modal produksi anda adalah Rp. 100.000. Maka keuntungan anda adalah 150.000 – 100.000 = Rp. 50.000. Sementara dalam sistem keuangan, keuntungan didapatkan dengan cara menciptakan uang baru dari ketiadaan. Uang baru itulah yang disebut keuntungan.
Sampai di sini anda belum bisa memahaminya secara jelas. Wajar, karena anda belum mengetahui tiga istrumen dasar dalam sistem keuangan.
Tiga instrumen dasar dalam sistem keuangan adalah:
Stok : Jumlah uang dalam peredaran
Flow : perpindahan uang karena proses transaksi
Fractional Reserve Bank : Rumus sistem keuangan perbankan yaitu 9:1
Dalam Fractional Reserve, bank akan membagi semua uang tunai nasabah menjadi dua bagian. Satu bagian atau 10% untuk Cadangan Wajib. Sembilan bagian atau 90% untuk Kelebihan Cadangan. Cadangan Wajib adalah dana yang harus disediakan bank di brangkas atau mesin ATM. Ini buat persedian bagi nasabah yang mau mengambil uangnya. Kelebihan Cadangan adalah uang yang dapat dikelola oleh bank. Biasanya kelebihan cadangan akan dipinjamkan kepada masyarakat yang mengajukan hutang.
Mari kita lakukan sebuah studi kasus seperti di bawah ini: Budi punya uang Rp. 100.000.000. Ani juga punya uang Rp. 100.000.000. Badu punya rumah, tapi tidak punya uang sama sekali. Stok uang yang ada dalam peredaran hanya : Rp. 200.000.000. Budi dan Ani menabung ke bank. Mereka berdua memperoleh buku tabungan. Di dalam buku tabungan mereka tertulis angka masing-masing Rp. 100.000.000. Uang Budi dan Ani adalah uang digital. Tapi itu bisa diambil di bank, ATM atau buat belanja. Sekarang sudah bisa belanja tapi cuma dengan angka-angka tanpa uang nyata.
Dengan uang tunai Rp. 200.000.000 tersebut, bank mulai menerapkan Fractional Reserve 9:1. Uang tersebut dibagi menjadi dua bagian. Sebanyak 10% alias Rp. 20.000.000 menjadi Cadangan Wajib yang harus disediakan bank di brankas atau di mesin-mesin ATM. Sementara yang 90% atau Rp. 180.000.000, dipinjamkan oleh bank kepada si Badu. Untuk mendapatkan pinjaman uang Rp. 180.000.000 itu, Badu harus mengagunkan rumahnya. Sekarang Badu punya uang tunai Rp. 180.000.000. Budi punya uang Rp. 100.000.000. Ani juga punya uang senilai Rp. 100.000.000. Jadi sekarang Stok uang dalam perederan
Dengan uang tunai Rp. 200.000.000 tersebut, bank mulai menerapkan Fractional Reserve 9:1. Uang tersebut dibagi menjadi dua bagian. Sebanyak 10% alias Rp. 20.000.000 menjadi Cadangan Wajib yang harus disediakan bank di brankas atau di mesin-mesin ATM. Sementara yang 90% atau Rp. 180.000.000, dipinjamkan oleh bank kepada si Badu. Untuk mendapatkan pinjaman uang Rp. 180.000.000 itu, Badu harus mengagunkan rumahnya. Sekarang Badu punya uang tunai Rp. 180.000.000. Budi punya uang Rp. 100.000.000. Ani juga punya uang senilai Rp. 100.000.000. Jadi sekarang Stok uang dalam perederan
sekarang bertambah jadi : Rp. 380.000.000.
Woooooow, dalam sekali flow atau perpindahan uang menggunakan rumus Fractional Reserve, bank bisa menciptakan uang baru sebanyak Rp. 180.000.000. Dari manakah asal uang Rp. 180.000.000 tersebut? Uang itu diciptakan bank dari udara kosong. Keuntungan 90% itu sengaja diciptakan dari ketiadaan.
Secara bisnis ini memang tidak masuk akal. Karena sistem bisnis enggak bisa menciptakan uang. Keuntungan dalam sistem bisnis berasal dari selisih biaya produksi dan harga jual. Tapi ingat bung, tadi saya sudah mengatakan bahwa bank bukan sistem bisnis. Keuntungan bank bukan hanya dari selisih bunga kredit dan bunga tabungan untuk nasabah. Bank adalah sistem keuangan. Dan sistem keuangan dapat menciptakan keuntungan dengan cara membuat uang baru dari sesuatu yang tidak ada.
Makanya di awal tulisan ini saya mengajak anda untuk bersiap melihat hal paling menakjubkan tentang bank. Ini saya lakukan agar anda tidak terkejut.
Sekarang anda pasti terpukau dan nyaris tak percaya kalau selama ini sumber keuntungan terbesar bank berasal dari uang baru yang diciptakan dari udara kosong. Padahal ini baru melibatkan tiga orang dengan uang pokok Rp. 200.000.000 juta loh. Bagaimana kalau melibatkan banyak orang dengan jumlah uang yang lebih banyak? Coba deh kita naikkan uang Budi dan Ani masing-masing jadi Rp. 1.000.000.000. Maka uang dalam peredaran akan bertambah menjadi 3,8 Milyar. Uaaaaaakeh tenan to hahaha....
Tapi kalau Budi dan Ani ngambil uangnya secara bersamaan gimana tuh? Kan uang 90% brangkas bank hanya berisi udara kosong. Ya kalau yang nabung di bank hanya mereka berdua, bank pasti bangkrut. Bank enggak bakal kuat membayar. Mau mbayar pakai apa coba, wong uang yang ada di bank cuma 10%. Tapi kabar baiknya, yang nabung di bank jumlahnya banyak. Dan bank selalu menyisihkan 10% setiap tabungan nasabah sebagai Cadangan Wajib. Jadi Budi dan Ani bisa ngambil semua uangnya. Karena itulah, walau bank sudah main sulapan kayak gini selama berabad-abad, sampai sekarang bank masih bisa bertahan dan masih mampu membayar. Syaratnya, masyarakat harus percaya kalau bank itu aman dan menguntungkan. Makanya sistem bank itu dibuat seolah rumit. Kalau rumit kan berarti aman brooo. :D
Kalau dibuat sederhana, cara mereka bikin uang dengan model sulapan bisa ketahuan. Itu sangat berbahaya. Anda bisa narik semua uang anda dan ogah nabung lagi. Biar lebih manteb, maka lahirlah Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Kalau terjadi apa-apa dengan bank, maka uang anda akan diganti oleh LPS. Penak tenan toooo...
Padahal uangnya LPS itu uangnya pemerintah. Dan semua uangnya pemerintah diperoleh dari hutang negara kepada Bank Indonesia. Dan utang negara itu yang bayar pokok hutang dan bunganya ya rakyat Indonesia. Kamu juga ikut bayar hutang, sob. Tapi kamu enggak pernah merasa membayar hutang negara, khan? Ya jelas enggak kerasa. Karena kamu bayarnya lewat pajak. Uapik tenan yaaaa wkwkwk.
Makanya harus tetap ada kesan kalau menyimpan uang di bank itu aman dan menguntungkan. Dengan begitu nasabah enggak akan rame-rame ngambil semua uangnya. Kalau sampai masyarakat merasa menabung di bank sudah tidak aman, mereka pasti akan berebut mengambil uangnya di bank.
Kondisi seperti itu sangat berbahaya. Karena 90% brangkas bank hanya berisi udara kosong, maka bank pasti gagal bayar dan bankrut. Itu sudah pernah terjadi pada tahun 1998. Akibat krisis orang jadi takut kalau uangnya hilang. Maka nasabah berbondong-bondong mengambil uangnya secara bersamaan. Akhirnya, banyak bank yang gagal bayar dan dilikuidasi pemerintah.
Bahkan agar masalah Bank Century tidak membuat masyarakat panik lalu ngambil semua uangnya di bank, maka negara rela memberi bailout hingga Rp. 6,7 Triliun. Buaanyak banget, khan? Enggak papa. Yang penting rakyat percaya kalau bank itu (kelihatannya) aman dan menguntungkan. ][
Tidak ada komentar:
Posting Komentar